Selasa, 10 Januari 2017
Profil Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Musthofa
Ahmad Romli Latif atau biasa dipanggil Romli dalam kesehariannya adalah sorang ustadz atau guru asli Lampung. Beliau dilahirkan di Lampung tepatnya pada tanggal 12 Februari 1982, dari pasangan H. Ahmad Latif dan Hj. Siti Sarmunah. Beliau adalah anak terakhir dari 5 bersaudara, diantaranya Hj. Yuyun Aliyah, Ust. Utsman Andi, Ust. Aad supriyadi, Ust. Dedy Salam dan yang terakhir adalah beliau sendiri.
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, ustadz Romli didampingi oleh seorang istri yang selalu setia, yaitu Umi Siti Fatimah Al-Hafidzoh, wanita kelahiran Bandar Lampung 29 April 1985 yang dinikahi pada tanggal 10 November 2010. Dalam pernikahannya, beliau dikaruniai 2 buah hati tercinta, yaitu Khadijah berumur 2 tahun dan Arrofahtunadia.
Pada saat ini beliau tinggal di Jalan Imam bonjol Gang Babussalam RT. 002/RW. 001 No. 21 Langkapura Bandar Lampung, kampung halamannya sedari kecil, menempati hunian yang berdekatan dengan tempat tinggal orang tuanya.
Ustadz Romli lahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup agamis karena kedua orangtua beliau yang sangat kental dengan adat ketimuran. Bagi mereka pendidikan agama adalah pendidikan utama dalam mendidik anak-anaknya. Dengan menanamkan ilmu agama dari sejak kecil, beliau dapat paham dan berusaha agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Oleh karenanya, sejak kecil beliau selalu ditempatkan di dalam pendidikan Islamiyah, seperti Pondok Pesantren. Hal ini juga beliau terapkan dalam keluarganya sendiri, beliau sangat konsisten dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Beliau juga selalu menekankan kepada putra-putrinya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu, dan menuntut ilmu kepada banyak guru khususnya ilmu agama. Sebab ilmu yang dimilikinya tidak dapat diwariskan.
Pada masa kecilnya, ustadz Romli tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak-anak pada umumnya. Beliau juga bermain dengan teman-temannya, seperti bermain bola, bermain pencak silat dan catur. Namun di umur yang masih relatif muda, beliau mempunyai kesenangan yang berbeda dari kebanyakan anak-anak lainnya, yaitu beliau sudah senang dalam membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal hadits-hadits, membaca buku-buku Islami, mempelajari buku-buku salaf dan lain sebagainya dan sering diutus oleh gurunya untuk menggantikan ceramah apabila gurunya berhalangan hadir. Kesenangan-kesenangan inilah yang membuat beliau akhirnya menjadi seorang da’i seperti sekarang ini. Sampai remaja pun, ustadz Romli juga banyak menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan mengaji, baik di Pondok Pesantren maupun belajar kepada guru-guru yang tersohor di kampungnya di Bandar Lampung. Beliau sering mengaji di Pondok Pesantren Al- Ikhlas bersama guru beliau Ust. Yasir Atsmuni, Pondok Pesantren Hidayatu Tullab. Berbeda dengan anak-anak remaja pada umumnya, yang kebanyakan mereka masih memikirkan akan kesenangan dunia saja tanpa memikirkan amal apa yang akan mereka bawa di akhirat kelak.
Kegiatan ustadz Romli dalam menuntut ilmu Agama dan mengaji masih terus berlanjut hingga sekarang walaupun sudah berumah tangga. Hal inilah yang membuktikan konsistensi beliau dalam menuntut ilmu patut semua kita tiru.
Beliau adalah orang yang sangat tekun dan berdisiplin tinggi dalam mempelajari ilmu-ilmu agama, sehingga beliau sangat ingin mengembangkan dan memajukan ajaran agama Islam di masyarakat luas, khususnya di masyarakat sekitar beliau tinggal. Ilmu agama yang beliau kuasai juga sangatlah luas sehingga beliau bisa mengamalkan ilmunya kepada anak-anak tetangga sekitar rumah beliau. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu’ (rendah hati), ramah terhadap semua orang, tidak senang dengan ketenaran (popularitas) serta adab dan akhlak beliau yang sangat tinggi dan luhur.
Akhlak, ilmu dan amal beliau merupakan cerminan Ulama Salaf (orang terdahulu yang berpegang kuat kepada ajaran Rasulullah SAW) yang terdapat dalam dirinya dan menghasilkan suri tauladan yang baik untuk para jama’ahnya yang ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW. Jadi, itu semua terlukis dengan perilakunya dalam melaksanakan yang fardhu dan sunnah.
Beliau sangat berpegang kepada Thoriqoh Salaf Alawiyin seperti yang dipegang teguh oleh kedua orangtua dan guru-guru beliau. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan tidak akan lelah karena jalan salaf mudah dan lurus.
Thariqah mereka adalah mengisi dan membagi waktu serta mengaturnya dengan berbagai ibadah, di Majelis-majelis ilmu dan pendidikan akhlak, pembacaan wirid-wirid dan hizib-hizib Para salaf dari kaum Alawiyyin maupun lainnya mendidik penuntut ilmu untuk memiliki hati yang selamat (salimah), berprasangka baik kepada Allah SWT dan mahluk-Nya, zuhud terhadap dunia, cinta kepada akhirat, peduli pada hak-hak manusia, serta menghargai ilmu, ulama, wali, dan kaum muslimin. Mereka melindungi hati dan pendengaran para penuntut ilmu dari segala sesuatu yang akan mengganggu dan menjauhkan mereka dari amal, juga dari segala sesuatu yang akan memalingkan hati mereka dari akhlak yang luhur dan mulia. Mereka menjaga para penuntut ilmu dari pergaulan dengan orang-orang yang berbeda paham dan dari mempelajari buku-buku yang berisi keterangan yang dapat merusak apa yang telah mereka pelajari, agar hati mereka tetap bersih dan suci, jiwa mereka tenang, dan semangat mereka tertuju pada kebaikan dan semua hal yang menyebabkan kebaikan.
Inilah yang dilakukan oleh ustadz Romli dalam kegiatan sehari-hari beliau yang tidak lepas dari kegiatan Dakwah ibadah dan menuntut ilmu ke pesantren-pesantren. Beliau selalu mengajarkan kepada para jama’ahnya seperti apa yang telah diajarkan oleh guru-gurunya, yang kesemuanya itu adalah hal-hal kebaikan demi mencari ridho Allah SWT karena menurut belia dakwah adalah jalan hidup, dakwah adalah maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah puncaknya sampai akhir hayat dan mati dalam dakwah dan hanya mengandalkan semuannya kepada Allah SWT .
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, ustadz Romli didampingi oleh seorang istri yang selalu setia, yaitu Umi Siti Fatimah Al-Hafidzoh, wanita kelahiran Bandar Lampung 29 April 1985 yang dinikahi pada tanggal 10 November 2010. Dalam pernikahannya, beliau dikaruniai 2 buah hati tercinta, yaitu Khadijah berumur 2 tahun dan Arrofahtunadia.
Pada saat ini beliau tinggal di Jalan Imam bonjol Gang Babussalam RT. 002/RW. 001 No. 21 Langkapura Bandar Lampung, kampung halamannya sedari kecil, menempati hunian yang berdekatan dengan tempat tinggal orang tuanya.
Ustadz Romli lahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup agamis karena kedua orangtua beliau yang sangat kental dengan adat ketimuran. Bagi mereka pendidikan agama adalah pendidikan utama dalam mendidik anak-anaknya. Dengan menanamkan ilmu agama dari sejak kecil, beliau dapat paham dan berusaha agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Oleh karenanya, sejak kecil beliau selalu ditempatkan di dalam pendidikan Islamiyah, seperti Pondok Pesantren. Hal ini juga beliau terapkan dalam keluarganya sendiri, beliau sangat konsisten dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Beliau juga selalu menekankan kepada putra-putrinya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu, dan menuntut ilmu kepada banyak guru khususnya ilmu agama. Sebab ilmu yang dimilikinya tidak dapat diwariskan.
Pada masa kecilnya, ustadz Romli tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak-anak pada umumnya. Beliau juga bermain dengan teman-temannya, seperti bermain bola, bermain pencak silat dan catur. Namun di umur yang masih relatif muda, beliau mempunyai kesenangan yang berbeda dari kebanyakan anak-anak lainnya, yaitu beliau sudah senang dalam membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal hadits-hadits, membaca buku-buku Islami, mempelajari buku-buku salaf dan lain sebagainya dan sering diutus oleh gurunya untuk menggantikan ceramah apabila gurunya berhalangan hadir. Kesenangan-kesenangan inilah yang membuat beliau akhirnya menjadi seorang da’i seperti sekarang ini. Sampai remaja pun, ustadz Romli juga banyak menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan mengaji, baik di Pondok Pesantren maupun belajar kepada guru-guru yang tersohor di kampungnya di Bandar Lampung. Beliau sering mengaji di Pondok Pesantren Al- Ikhlas bersama guru beliau Ust. Yasir Atsmuni, Pondok Pesantren Hidayatu Tullab. Berbeda dengan anak-anak remaja pada umumnya, yang kebanyakan mereka masih memikirkan akan kesenangan dunia saja tanpa memikirkan amal apa yang akan mereka bawa di akhirat kelak.
Kegiatan ustadz Romli dalam menuntut ilmu Agama dan mengaji masih terus berlanjut hingga sekarang walaupun sudah berumah tangga. Hal inilah yang membuktikan konsistensi beliau dalam menuntut ilmu patut semua kita tiru.
Beliau adalah orang yang sangat tekun dan berdisiplin tinggi dalam mempelajari ilmu-ilmu agama, sehingga beliau sangat ingin mengembangkan dan memajukan ajaran agama Islam di masyarakat luas, khususnya di masyarakat sekitar beliau tinggal. Ilmu agama yang beliau kuasai juga sangatlah luas sehingga beliau bisa mengamalkan ilmunya kepada anak-anak tetangga sekitar rumah beliau. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu’ (rendah hati), ramah terhadap semua orang, tidak senang dengan ketenaran (popularitas) serta adab dan akhlak beliau yang sangat tinggi dan luhur.
Akhlak, ilmu dan amal beliau merupakan cerminan Ulama Salaf (orang terdahulu yang berpegang kuat kepada ajaran Rasulullah SAW) yang terdapat dalam dirinya dan menghasilkan suri tauladan yang baik untuk para jama’ahnya yang ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW. Jadi, itu semua terlukis dengan perilakunya dalam melaksanakan yang fardhu dan sunnah.
Beliau sangat berpegang kepada Thoriqoh Salaf Alawiyin seperti yang dipegang teguh oleh kedua orangtua dan guru-guru beliau. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan tidak akan lelah karena jalan salaf mudah dan lurus.
Thariqah mereka adalah mengisi dan membagi waktu serta mengaturnya dengan berbagai ibadah, di Majelis-majelis ilmu dan pendidikan akhlak, pembacaan wirid-wirid dan hizib-hizib Para salaf dari kaum Alawiyyin maupun lainnya mendidik penuntut ilmu untuk memiliki hati yang selamat (salimah), berprasangka baik kepada Allah SWT dan mahluk-Nya, zuhud terhadap dunia, cinta kepada akhirat, peduli pada hak-hak manusia, serta menghargai ilmu, ulama, wali, dan kaum muslimin. Mereka melindungi hati dan pendengaran para penuntut ilmu dari segala sesuatu yang akan mengganggu dan menjauhkan mereka dari amal, juga dari segala sesuatu yang akan memalingkan hati mereka dari akhlak yang luhur dan mulia. Mereka menjaga para penuntut ilmu dari pergaulan dengan orang-orang yang berbeda paham dan dari mempelajari buku-buku yang berisi keterangan yang dapat merusak apa yang telah mereka pelajari, agar hati mereka tetap bersih dan suci, jiwa mereka tenang, dan semangat mereka tertuju pada kebaikan dan semua hal yang menyebabkan kebaikan.
Inilah yang dilakukan oleh ustadz Romli dalam kegiatan sehari-hari beliau yang tidak lepas dari kegiatan Dakwah ibadah dan menuntut ilmu ke pesantren-pesantren. Beliau selalu mengajarkan kepada para jama’ahnya seperti apa yang telah diajarkan oleh guru-gurunya, yang kesemuanya itu adalah hal-hal kebaikan demi mencari ridho Allah SWT karena menurut belia dakwah adalah jalan hidup, dakwah adalah maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah puncaknya sampai akhir hayat dan mati dalam dakwah dan hanya mengandalkan semuannya kepada Allah SWT .
Langganan:
Komentar (Atom)

